top of page

CineLink Youth East Java x Busan 2025: Cahaya Baru Perfilman Muda Jawa Timur Menembus Dunia

  • Gambar penulis: independen film surabaya
    independen film surabaya
  • 9 Nov 2025
  • 5 menit membaca

Di tengah upaya Jawa Timur membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis talenta muda, enam pelajar dan mahasiswa Surabaya melangkah lebih jauh. Melalui program CineLink Youth East Java x Busan 2025, mereka mewakili Indonesia di forum perfilman internasional Busan International Film Festival (BIFF) dan Asian Contents & Film Market (ACFM), Korea Selatan.

Program yang digagas oleh Fauzan Abdillah, pendiri Figuratif Pictures sekaligus Direktur INFIS Surabaya, menjadi tonggak awal kolaborasi lintas negara antara Jawa Timur dan Korea Selatan, sebuah pilot project pendidikan kreatif yang menggabungkan film, budaya, dan diplomasi generasi muda.



Dari Surabaya ke Busan: Menyalakan Semangat Baru

Selama program, keenam peserta — dijuluki Surabaya Six — menjalani pitching session, kunjungan ke pusat industri film Busan, serta masterclass dengan produser dan kurator internasional. Mereka tak hanya datang untuk belajar, tapi juga memperkenalkan suara dan identitas baru dari Timur Indonesia: berani, reflektif, dan penuh rasa ingin tahu.



Para Penerima Penghargaan & Makna di Baliknya

Muhasibi – Best Bold Idea Melalui gagasan filmnya yang eksperimental, Muhasibi memadukan realitas sosial dengan simbolisme visual yang kuat. Ia menunjukkan keberanian untuk keluar dari pola pikir konvensional, sesuatu yang jarang dimiliki di usia muda.

“Berani itu bukan sekadar menantang aturan, tapi menemukan cara baru untuk jujur lewat gambar,” ungkapnya.


Dafa – Best Future Story Dafa menampilkan narasi futuristik yang memadukan sains, budaya, dan kemanusiaan. Ceritanya menawarkan pandangan ke masa depan yang tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.

Fauzan menilai karya Dafa sebagai “visi muda yang matang, dengan keberanian membayangkan Indonesia 20 tahun ke depan tanpa kehilangan jati diri.”


Bryan – Best Visual Impact Dengan latar belakang Big Bryan Production, Bryan dikenal lewat pendekatan sinematografi yang tajam dan penuh gaya. Ia menciptakan visual yang tidak hanya indah, tapi juga komunikatif — menunjukkan bahwa film pendek bisa punya kekuatan estetik setara film profesional.


Reyna – Best Changemaker Pitch Reyna datang dari dunia fesyen dan membawa cara pandang baru bahwa kostum dan warna bisa menjadi bahasa emosi dalam film. Ia menunjukkan sinema sebagai ruang lintas disiplin yang mempertemukan gaya, budaya, dan pesan sosial.


Almira – Best Fresh Voice Almira menonjol dengan keinginannya membawa budaya Melayu ke ranah film dan fesyen modern. Ia melihat kain dan motif tradisional sebagai medium bercerita yang elegan dan universal.

“Saya ingin budaya Melayu dilihat bukan sebagai nostalgia, tapi masa depan,” ujarnya.


Baihaqi – Best Visionary Direction Sebagai sutradara muda, Baihaqi memukau lewat proyek Before Growing Up — sebuah karya yang memadukan kejujuran emosional dan arah sinematik yang matang. Ia menggambarkan perjalanan tumbuh sebagai ruang refleksi dan pencarian makna, bukan sekadar cerita remaja.



“Luminary Journey”: Dari Kelas ke Dunia

Fauzan Abdillah menyebut program ini sebagai “Luminary Journey” — perjalanan menemukan cahaya dalam proses tumbuh.

“Film ini bukan hanya hasil karya, tapi refleksi hidup mereka. CineLink Youth menjadi ruang belajar paling nyata: antara disiplin, keberanian, dan empati.”

Melalui perjalanan ini, para peserta tidak hanya menjadi pembuat film, tetapi juga duta muda Surabaya yang membawa nilai-nilai budaya lokal ke forum internasional.



Langkah Lanjutan CineLink Youth: Menjembatani Generasi Kreatif Jawa Timur dengan Dunia

Surabaya, Oktober 2025 – Setelah menorehkan prestasi di CineLink Youth East Java x Busan 2025, enam pelajar muda Jawa Timur kini bersiap melanjutkan langkah kreatif berikutnya. Program yang membawa mereka tampil di rangkaian Busan International Film Festival (BIFF) dan Asian Contents & Film Market (ACFM) ini tidak hanya menjadi pengalaman internasional, tetapi juga tonggak penting bagi pembangunan ekosistem perfilman muda di daerah.

Salah satu peserta, Baihaqi dari SMAN 5 Surabaya, berhasil meraih penghargaan Best Visionary Direction melalui karya filmnya Before Growing Up, yang menyoroti perjalanan remaja dalam mencari jati diri di tengah perubahan zaman.

“Film ini bukan sekadar tugas sekolah, tapi cara saya memahami proses tumbuh. Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda bisa berpikir kritis dan jujur lewat karya,” ujar Baihaqi.

Fauzan Abdillah, penggagas program sekaligus Direktur INFIS (Independent Film Surabaya), menyebut bahwa capaian ini adalah langkah awal untuk memperkuat posisi Jawa Timur dalam jejaring kreatif nasional dan internasional.

“Kami melihat generasi ini memiliki potensi luar biasa. Tugas berikutnya adalah memastikan mereka mendapat dukungan berkelanjutan, dari sekolah, pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta, agar bisa terus berkarya dengan arah yang jelas,” tuturnya.

Program CineLink Youth terbukti menjadi ruang belajar lintas disiplin: memadukan film, seni, dan literasi budaya sebagai sarana ekspresi sekaligus diplomasi generasi muda. Para peserta belajar langsung dari praktisi internasional di Busan, memahami dinamika industri film Asia, dan memperkenalkan identitas kreatif Jawa Timur di forum global.

Langkah lanjutan dari inisiatif ini tengah disiapkan dengan pendekatan kolaboratif dan pendidikan berkelanjutan dengan merambah beragam kota kreatif dunia lainnya. Harapannya, lebih banyak lembaga, sekolah, komunitas, dan pemangku kebijakan dapat turut berperan dalam membuka akses, menyediakan fasilitas, dan memberi ruang bagi kreativitas pelajar di bidang film dan media.

 “Kami percaya dukungan banyak pihak bukan hanya soal dana atau fasilitas, tetapi tentang membangun kepercayaan bahwa karya anak muda Jawa Timur layak mendapat panggung,” tambah Fauzan.

Dengan semangat Local Frame, Global Impact, CineLink Youth menjadi simbol bahwa dari ruang belajar di Surabaya dan Jawa Timur, imajinasi dan gagasan bisa melintasi batas negara. Sebuah langkah kecil dengan arah besar: menjadikan Jawa Timur rumah bagi generasi kreatif yang berpikir global, berakar lokal, dan berdaya saing dunia.



Catatan Redaksi:

Press release ini disusun sebagai publikasi resmi pasca kepulangan delegasi dari Korea Selatan. merupakan apresiasi program CineLink Youth 2025 bersama Yooran Film dan disupport oleh Napnet (New Asian Producers Network), Busan Asian Film School - AFIS, Busan Film Commission, Inno Asia - Asian Contents & Film Market ACFM - Busan International Film Festival 2025 dan menjadi bentuk pengakuan terhadap kreativitas peserta dalam forum internasional.

CineLink Youth Busan – Award Winners 2025


1. Best Bold Idea – Muhammad Sadid Al Muhasibi

Diberikan kepada peserta yang berani mendorong batasan dengan pitch yang tidak konvensional dan penuh keberanian.

Sibi memenangkan kategori ini melalui proyek Cross-Taste Delivery, komedi budaya gastronomi yang mengkritisi dunia digital dengan cara segar, lucu, dan tajam.


2. Best Fresh Voice – Almira Nindyawati Risandriya

Menghargai pitch yang memperkenalkan perspektif muda yang segar.

Almira dipuji karena proyek The Charm of Melayu Archipelago, yang menghadirkan keresahan generasi muda Melayu dengan keaslian dan kedalaman emosional.


3. Best Future Story – Dafa Hayfa Asyabyl Suwardi

Diberikan kepada ide yang mampu membayangkan masa depan.

Dafa mengesankan juri dengan From The Roots Creative Hub, Platform kolaborasi kreatif kenalkan kuliner tradisional dengan isu pangan global. Mulai dari online campaign, gamifikasi, dan educational content dalam berbagai format sebagai cara baru mengedukasi generasi muda.


4. Best Visual Impact – Bryan Wibowo Sudamiran

Merayakan pitch dengan imajinasi visual paling kuat.

Bryan menonjol lewat proyek Past Tense, psychological thriller dengan atmosfer visual yang kuat dan konsep sinematik yang matang.



5. Best Changemaker Pitch – Reyna Nalini Zarri

Menghargai ide dengan potensi menciptakan dampak nyata.

Reyna meraih penghargaan ini berkat proyek Fusion Hanbok & Tenun, yang memadukan mode tradisional Korea dan Jawa Timur sebagai simbol diplomasi budaya.



6. Best Visionary Direction – Baihaqi Zulfikar Hidayat

Menghormati peserta dengan arahan kreatif paling visioner.

Baihaqi memukau lewat proyek tentang Pernikahan Dini di Madura & Hutan Adat Papua, memadukan isu sosial dan kritik kapitalisme dalam narasi dramatis yang berani.


 
 
 

Komentar


putih-1.png

Sejak Tahun 2000. Film. Komunitas. Kolaborasi

Rumah Untuk Pemuda Penggemar Film Dan Sineas Muda

Bantuan Layanan

Kontak

About INFIS

Program

Galeri Karya

Kolaborasi

bottom of page